Ramadan dan penyelamatan lingkungan? Apakah ada korelasi antar keduanya. Sebagaimana diketahui, umat muslim memandang Ramadan sebagai bulan penuh hikmah. Umat muslim menjadikan bulan Ramadan untuk berlatih menahan diri dari hawa nafsu, memperbanyak ibadah, dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT.

Untuk itu bulan Ramadan sangat tepat untuk dijadikan momentum melakukan perbaikan dan perubahan banyak hal. Momentum untuk menahan diri dari hawa nafsu menjadi salah satu alasan utamanya.

Selain itu, Ramadan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga tetapi menjadi ajang latihan spiritual. Harapanya dapat menuntun manusia pada kesadaran diri, empati sosial, dan pengendalian konsumsi. Namun sayangnya, fenomena yang sering terjadi justru sebaliknya: konsumsi makanan berlebihan, belanja makanan berlimpah, dan akhirnya menghasilkan sampah yang menumpuk. Ironis, karena esensi Ramadan adalah kesederhanaan, bukan kemewahan.

Kondisi ini menyebabkan pengeluaran keuangan yang juga meningkat, apalagi pada saat menghadapi tradisi perayaan Hari Raya Idul Fitri. Untuk memenuhinya, tidak jarang menyebabkan pengendalian diri yang tidak terkendali. Berbagai upaya dilakukan termasuk melakukan kerusakan lingkungan. Eksplorasi sumber daya secara sporadis masih dilakukan termasuk perusakan lingkungan hidup. Walaupun tidak dilakukan pada saat ini, nafsu pengelolaan sumberdaya seharusnya dapat terkendali setelah melalui bulan Ramadan.

Karena salah satu penyebab kerusakan lingkungan adalah ulah manusia dengan nafsunya. Padahal agama Islam sangat menekankan perlindungan terhadap lingkungan, melarang kerusakan bumi, dan menekankan manusia sebagai khalifah yang amanah. Ada banyak Dalil-dalil yang menuntut pelestarian alam, hemat air, menanam pohon sebagai sedekah, serta menjaga kebersihan, yang semuanya merupakan bentuk syukur dan tanggung jawab kepada Allah SWT.

Berbagai bencana alam yang terjadi beberapa waktu terakhir juga tidak terlepas dari perilaku manusia. Dalil di Al Qur’an juga sudah menjelaskan fenomena tersebut, sebagaimana dalil yang mengatakan bahwa “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia”. Padahal Allah SWT sudah membuat larangan melalui firman-Nya, “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah SWT amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik".

Disamping ayat Al Qur’an, Rasulullah SAW juga bersabda bahwa "Setiap muslim yang menanam pohon atau menanam tanaman, lalu dimakan oleh burung, manusia, atau hewan, maka baginya akan menjadi sedekah". Selain itu, Rasulullah SAW dalam beberapa riwayat kerap kali menegur sahabat yang berlebihan dalam berwudu, meskipun berada di air sungai yang mengalir. Teguran ini menurut ulama bentuk penegasan akan pentingnya konservasi air.

Rasulullah SAW juga menuturkan sabdanya tentang pahala sebanyak buah pohon. Rasulullah SAW bersabda “Tidaklah seseorang menanam tanaman, kecuali Allah 'Azza Wajalla mencatat pahala untuknya seukuran buah yang dikeluarkan oleh tanaman itu” (HR Ahmad).

Selain itu Rasulullah SAW juga bersabda yang memebrikan perintah menanam pohon “Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas, maka jika ia mampu sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya, maka tanamlah." (HR Bukhari dan Ahmad).

Oleh sebab itu, hikmah bulan Ramadhan yang paling utama adalah meningkatkan ketakwaan seorang hamba kepada Allah SWT. Karena Puasa Ramadhan diwajibkan agar umat Islam menjadi orang-orang yang bertakwa, sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 183. Melalui hikmah Ramadhan, seorang muslim diharapkan belajar untuk selalu merasa diawasi oleh Allah SWT dalam setiap keadaan, baik saat sendiri maupun bersama orang lain.

Hakekat taqwa yang sederhana adalah menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan Allah SWT. Artinya ketika pelestarian lingkungan adalah perintah Allah SWT, maka sudah seharusnya harus dilaksanakan. Dan ketika merusak lingkungan atau alam itu merupakan hal yang dilarang Allah SWT, maka sudah seharusnya untuk tidak dilakukan dan dijauhi.

Tindakan manusia yang merusak alam dengan berbagai cara sudah seharusnya dihindari. Hal sederhana yang kerap kali dilakukan yang pada akhirnya juga dapat merusak lingkungan juga harus dihindari. Salah satunya adalah ketika tidak membuang sampah pada tempatnya. Hal sederhana lain yang dapat dilakukan oleh siapapun adalah dengan secara berantai mengajak rekan atau kerabat termasuk masyarakat luas untuk menjaga lingkungan dan alam sekitar.

Hal yang lebih luas dan komplek untuk dilakukan upaya pencegahan adalah penyelamatan kawasan hutan. Karena sebagai bagian dari alam dan lingkungan, hutan memiliki manfaat yang straegis dalam menjaga lingkungan. Karena hutan berfungsi vital sebagai paru-paru dunia (penghasil oksigen dan penyerap karbon), pengatur tata air (mencegah banjir/kekeringan), pelindung erosi/longsor, habitat keanekaragaman hayati (80% spesies), serta penyedia sumber daya ekonomi, bahan pangan, dan obat-obatan. Hutan menjaga keseimbangan ekosistem dan iklim global.

Pembelajaran akibat bencana alam yang kerap terjadi akhir-akhir ini sebenarnya sudah cukup menjadi perhatian semua pihak. Semangat untuk menahan hawa nafsu merusak hutan seharusnya semakin meningkat ketika sudah melewati bulan Ramadan. Semangat Ramadhan yang sudah mengajarkan untuk mengendalikan hawa nafsu diharapkan dapat menjadi semangat kolektif kepada semua orang untuk secara bijak menjaga alam dan lingkungan.

Semoga

Penulis : Sekretaris Wilayah Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat Wilayah Riau, Hasan Supriyanto

Baca rincian berita ini selengkapnya di laman Cakaplah: https://www.cakaplah.com/berita/baca/133689/2026/03/06/ramadan-dan-upaya-penyelamatan-lingkungan/