Pekanbaru, Riau – Sebagai bagian dari upaya berkelanjutan Indonesia untuk mengakses pembiayaan iklim internasional di tingkat provinsi, Pemerintah Provinsi Riau yang didukung oleh Food and Agriculture Organisation of the United Nations (FAO) menyelenggarakan dialog sub-nasional untuk mempercepat perhitungan gas rumah kaca (GRK) lahan gambut serta pembelajaran untuk sistem pengukuran, pelaporan, dan verifikasi (MRV) untuk kegiatan pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan (REDD+).
Berlangsung pada 3-4 Februari 2026, dialog ini merupakan bagian dari rangkaian transfer pengetahuan dan penguatan kapasitas dalam kerangka program UN-REDD yang didanai oleh UK Foreign, Commonwealth & Development Office (UK-FCDO), yang disebut inisiatif “Growing Resilience through Emissions Reductions, Community Empowerment and Ecosystem Restoration for a Nurturing Future” (GREEN for Riau).
Di provinsi Riau, lahan gambut memainkan peran penting, dengan mencakup sekitar 4,9 juta hektar atau hampir setengah dari luas wilayahnya. Data tersebut menunjukkan bahwa adanya potensi sebagian besar emisi gas rumah kaca (GRK) di provinsi ini berasal dari dekomposisi lahan gambut.
Ini membuat pengukuran emisi lahan gambut secara akurat merupakan kunci dalam memantau kemajuan REDD+ di Riau sehingga dapat memperluas akses potensialnya terhadap pembiayaan iklim internasional berbasis hasil, yang akan mendukung upaya mitigasi dan adaptasi iklim di provinsi ini.
“Emisi dari lahan gambut merupakan faktor pembeda utama dalam implementasi REDD+ di Provinsi Riau, karena lahan gambut berkontribusi signifikan terhadap emisi gas rumah kaca di wilayah tersebut. Diskusi kelompok terfokus ini sangat penting untuk mengeksplorasi dan menyempurnakan metodologi pengukuran emisi lahan gambut pada skala yurisdiksi, memastikan implementasi REDD+ yang kokoh,” kata Rajendra Aryal, Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor-Leste.
Selama dua hari, forum ini menjadi ruang kolaborasi bagi para pakar dan praktisi lahan gambut, mulai dari perwakilan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), akademisi Universitas Riau, hingga sektor swasta seperti APRIL dan APP Group. Pertemuan ini juga menghadirkan tim MRV dari program pembiayaan iklim yang telah dilakukan di Indonesia seperti di Kalimantan Timur dan Jambi untuk saling berbagi pengalaman lapangan dan temuan dari kegiatan yang pernah dilakukan.
“Riau menjadi salah satu kawasan rawa gambut terbesar di Indonesia. Kondisi rawa gambut ini secara signifikan mempengaruhi tingkat emisi gas rumah kaca (GRK) di provinsi tersebut. Oleh karena itu, memperkuat upaya pengelolaan dan restorasi lahan gambut sangat penting untuk mendukung pengurangan emisi yang efektif di Riau,” kata Purnama Irawansyah, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Riau.
Pelajaran berharga dari Kalimantan Timur dan Jambi, dua provinsi pionir dalam MRV sub-nasional, menjadi sorotan utama dalam pertemuan hari kedua. Mereka memaparkan perjalanan pengembangan sistem MRV mereka, mulai dari pengelolaan data hingga cara mengatasi hambatan birokrasi dan teknis. Dengan adanya pembelajaran antar-provinsi ini sangat penting bagi Green for Riau dapat mempercepat pengembangan sistem MRV yang akurat, sehingga meminimalkan risiko kesalahan dalam pelaporan emisi di masa depan.
Tentang UN-REDD dan GREEN untuk Riau
Program UN-REDD merupakan aliansi global yang mengintegrasikan keahlian teknis dari tiga lembaga utama PBB—FAO, UNDP, dan UNEP. Program ini dirancang untuk mendukung negara-negara berkembang dalam mereduksi emisi sektor kehutanan, memperkuat cadangan karbon, serta mendorong pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. GREEN for Riau didukung oleh Program UN-REDD, dilaksanakan oleh UNEP dan FAO, dan didanai oleh UK-FCDO. Inisiatif ini mencakup dukungan yang dipimpin oleh FAO dalam pengembangan Tingkat Emisi Referensi Hutan (FREL) tingkat sub-nasional dan sistem pemantauan emisi hutan yang sesuai, serta mendukung kegiatan pembangunan kapasitas dan penguatan tata kelola yang lebih luas.
Baca rincian berita ini selengkapnya di laman resmi FAO:
https://www.fao.org/indonesia/news/detail/riau--fao-host-dialogue-to-strengthen-peatland-and-forest-emission-baseline/en