Deskripsi
Karhutla Riau Berulang, Pakar Tekankan Kunci Pengelolaan Air Gambut dan Peran Masyarakat
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau kembali menjadi ancaman serius setiap musim kemarau. Pola kebakaran yang berulang, terutama di lahan gambut, menunjukkan bahwa persoalan ini belum sepenuhnya tertangani, baik dari sisi ekologi maupun tata kelola.
Peneliti Senior Pusat Unggulan Iptek (PUI) Kebencanaan dan Gambut Universitas Riau, Prof. Haris Gunawan, menegaskan bahwa karhutla di Riau tidak dapat dilepaskan dari rusaknya ekosistem gambut, terutama sistem hidrologinya.
“Gambut itu sangat bergantung pada air. Ketika airnya hilang, tutupan lahannya rusak, dan gambutnya terdegradasi, maka risiko kebakaran menjadi sangat tinggi,” ujar Haris.
Haris menjelaskan, ekosistem gambut yang aman dari kebakaran harus berada dalam kondisi ecological intact, yakni ekologi yang tidak terganggu, dimana kondisi suatu ekosistem yang masih memiliki seluruh komponennya. Terdapat tiga unsur utama yang saling berkaitan: air, tutupan vegetasi, dan gambut itu sendiri.
Jika ketiga unsur tersebut rusak, kebakaran gambut menjadi sulit dikendalikan. Api tidak hanya membakar permukaan, tetapi merambat ke bawah tanah (smouldering), sehingga memerlukan waktu lama dan sumber daya besar untuk pemadaman.