Deskripsi
Ekosistem Gambut Dan Mangrove Penopang Mitigasi Perubahan Iklim
Ekosistem gambut dan mangrove di Provinsi Riau memegang peranan sangat penting dalam mitigasi perubahan iklim global. Namun di saat yang sama, kedua ekosistem ini juga menghadapi tekanan besar akibat degradasi, konversi lahan, dan persoalan sosial-ekonomi di tingkat tapak.
Dr. Sigit Sutikno dari Pusat Unggulan Iptek (PUI) Gambut Universitas Riau menjelaskan bahwa gambut dan mangrove merupakan bagian dari ekosistem lahan basah (wetlands ecosystem) yang umumnya berada di wilayah dataran rendah. Sekitar 65 persen wilayah Riau merupakan kawasan lowland, sehingga kedua ekosistem ini berkembang luas dan memiliki potensi yang sangat besar.
“Perannya sangat krusial dalam penyimpanan karbon. Gambut di dunia hanya mencakup sekitar tiga persen luas daratan, tetapi menyimpan hampir 30 persen karbon bumi. Sementara mangrove mampu menyimpan dan menyerap karbon hingga lima kali lebih besar dibandingkan hutan daratan,” ujar Sigit.
Upaya restorasi, menurut Sigit, bukanlah pekerjaan instan. Restorasi gambut dan mangrove membutuhkan proses panjang dan berkelanjutan. Tidak cukup hanya menanam, tetapi harus diikuti pemantauan, perawatan, dan evaluasi terus-menerus.
“Tantangan terberat justru ada pada revitalisasi mata pencaharian masyarakat. Mengubah kebiasaan ekonomi yang sudah lama dijalani tidak mudah, sehingga perlu pendekatan bertahap dan perbaikan berkelanjutan,” ujarnya.
Pendekatan ekonomi inilah yang selama ini menjadi fokus kerja Mulyadi, Direktur Yayasan Gambut Riau, dalam mendampingi masyarakat di kawasan gambut dan mangrove. Menurutnya, kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga ekosistem harus dibangun bersamaan dengan solusi ekonomi yang nyata.
“Kalau bicara masyarakat, kebutuhan dasarnya tetap ekonomi. Dulu karet, lalu sawit karena pasarnya besar. Jadi ketika kita bicara konservasi, harus ada alternatif penghidupan yang jelas,” ujar Mulyadi.