Provinsi Riau memiliki posisi strategis dalam mendukung pencapaian target iklim nasional Indonesia, khususnya melalui perannya dalam pengelolaan hutan dan lahan, ekosistem gambut dan mangrove, serta sektor penggunaan lahan lainnya. Namun, Riau juga menghadapi tantangan struktural dengan kompleksitas tinggi, mulai dari deforestasi dan degradasi hutan yang masih berlangsung, kebakaran hutan dan lahan yang berulang, hingga keterbatasan akses terhadap pembiayaan iklim yang memadai.

Tantangan tersebut menggarisbawahi kebutuhan akan pendekatan transformasional untuk mempercepat transisi menuju pengelolaan lanskap hijau yang berkelanjutan, terintegrasi, adaptif, dan berorientasi jangka panjang.

GREEN for Riau Initiative didesain sebagai vehicle strategis untuk menjembatani kesenjangan pendanaan iklim atau climate finance gap di tingkat provinsi dan kabupaten. Inisiatif ini juga menjadi katalis bagi pembangunan ekonomi wilayah yang inklusif, sekaligus mendorong kepemimpinan lokal atau local leadership dalam agenda pembangunan rendah emisi.

GREEN for Riau mengintegrasikan pendekatan REDD+ berbasis yurisdiksi, pencegahan kebakaran, restorasi ekosistem, dan pemberdayaan ekonomi lokal ke dalam satu kerangka investasi inovatif yang bankable, kredibel, terukur, dan berkelanjutan.

1. Menjembatani Kesenjangan Pendanaan Iklim di Riau

Kebutuhan pendanaan iklim untuk mencapai target FOLU Net Sink 2030 di Provinsi Riau sangat besar, diperkirakan paling sedikit mencapai Rp11,3 triliun. Pendanaan tersebut diperlukan untuk mendukung implementasi 12 rencana operasi FOLU, termasuk pengendalian kebakaran hutan dan lahan, restorasi gambut, pengelolaan hutan berkelanjutan, perhutanan sosial, pengelolaan hutan lestari, serta penguatan sistem data dan kelembagaan di Riau.

Saat ini, kapasitas APBN, APBD, dan skema pendanaan publik konvensional masih terbatas. Di sisi lain, ketersediaan pembiayaan iklim global terus meningkat, baik melalui dana bilateral dan multilateral, filantropi, maupun investasi swasta. Namun, berbagai sumber pendanaan tersebut belum sepenuhnya terserap dan terhubung secara efektif dengan kebutuhan di tingkat daerah.

Dalam konteks ini, GREEN for Riau berfungsi sebagai platform integratif yang mampu:

  • Mengonsolidasikan kebutuhan pendanaan iklim lintas sektor dan wilayah ke dalam satu kerangka program;
  • Menyelaraskan intervensi strategis daerah dengan standar pembiayaan iklim dan pembiayaan berbasis hasil;
  • Meningkatkan kepercayaan investor dan mitra pembangunan melalui penguatan tata kelola, transparansi, inklusivitas, dan kinerja yang terukur.

Dengan fungsi tersebut, GREEN for Riau menjadi jembatan antara prioritas pembangunan daerah dan arus pendanaan iklim nasional maupun global.

2. Dampak terhadap Pembangunan Ekonomi Wilayah

GREEN for Riau dirancang untuk memberikan multiplier effects bagi pembangunan ekonomi wilayah. Inisiatif ini tidak hanya memberikan manfaat lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru yang lebih berkelanjutan.

Investasi hijau dalam pengelolaan lanskap berkelanjutan berkontribusi pada penciptaan lapangan kerja hijau atau green jobs di berbagai bidang, seperti pengelolaan hutan lestari, pencegahan kebakaran, restorasi ekosistem, pemantauan lingkungan, perhutanan sosial, serta pengelolaan sumber daya alam.

Selain itu, GREEN for Riau juga dapat meningkatkan produktivitas sektor ekonomi berbasis hutan dan lahan melalui pengurangan risiko kebakaran, deforestasi, serta degradasi hutan dan lahan. Dengan risiko lingkungan yang lebih terkendali, kegiatan ekonomi masyarakat dan dunia usaha dapat berjalan lebih stabil dan berkelanjutan.

Dalam jangka panjang, inisiatif ini juga memperkuat daya tarik Provinsi Riau sebagai salah satu wilayah tujuan utama investasi hijau di Indonesia, sejalan dengan tren pembangunan ekonomi rendah karbon.

Secara makro, upaya pencegahan kebakaran serta pengurangan degradasi hutan dan lahan dapat menekan kerugian ekonomi akibat bencana asap, biaya kesehatan, gangguan aktivitas produksi, dan hambatan arus logistik. Dengan demikian, GREEN for Riau turut mendukung stabilitas pertumbuhan ekonomi wilayah dalam jangka panjang.

3. Backward dan Forward Linkages Ekonomi Hijau

GREEN for Riau memiliki keterkaitan struktural yang kuat dengan berbagai sektor ekonomi lainnya.

Dari sisi backward linkages, inisiatif ini mendorong meningkatnya permintaan terhadap jasa teknis dan konsultansi kehutanan serta lingkungan, teknologi pemantauan berbasis geospasial dan satelit resolusi tinggi, sistem peringatan dini kebakaran, sistem MRV, jasa pembiayaan, pendampingan komunitas, serta pengembangan kapasitas.

Hal ini membuka peluang bagi pelaku usaha lokal, UMKM, lembaga pembiayaan, lembaga riset, penyedia teknologi, dan penyedia jasa berbasis pengetahuan serta inovasi.

Sementara itu, forward linkages muncul melalui peningkatan keberlanjutan sektor hilir seperti pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, serta bioekonomi. Lanskap yang dikelola dengan baik dapat meningkatkan kepastian usaha, kualitas produksi, akses pembiayaan, dan akses pasar.

Hal ini menjadi semakin penting karena pasar global kini semakin mensyaratkan standar keberlanjutan, ketertelusuran atau traceability, serta integritas lingkungan yang tinggi. Dengan demikian, GREEN for Riau berfungsi sebagai katalis integrasi ekonomi hijau lintas sektor di tingkat wilayah.

4. Dampak terhadap Permasalahan Sosial dan Inklusivitas

Kebakaran hutan serta degradasi hutan dan lahan menimbulkan dampak sosial yang signifikan, terutama terhadap kesehatan masyarakat, pendidikan, mata pencaharian lokal, dan kelompok rentan.

GREEN for Riau mengadopsi pendekatan mitigasi berbasis lanskap dan berbasis masyarakat, termasuk masyarakat adat dan komunitas lokal atau Indigenous Peoples and Local Communities (IP/LC). Pendekatan ini diharapkan dapat berkontribusi pada penurunan risiko kesehatan dan gangguan pendidikan akibat kabut asap, penguatan mata pencaharian berkelanjutan di tingkat lokal, serta pengurangan konflik sosial terkait pengelolaan hutan dan lahan.

Inisiatif ini juga mengarusutamakan prinsip Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) dengan memastikan partisipasi bermakna perempuan, kelompok rentan, penyandang disabilitas, serta masyarakat adat dan komunitas lokal.

Pendekatan inklusif ini tidak hanya memperkuat legitimasi sosial program, tetapi juga meningkatkan keberlanjutan hasil di tingkat tapak.

5. GREEN for Riau sebagai Platform Investasi Berdampak

Dari perspektif investor dan mitra pendanaan, GREEN for Riau menawarkan value proposition yang kuat.

Pertama, risiko yang lebih terkelola melalui pendekatan yurisdiksi, transparansi, tata kelola yang jelas, serta sistem data dan informasi yang terstruktur dan terintegrasi.

Kedua, dampak yang terukur, antara lain melalui penurunan emisi gas rumah kaca dari dekomposisi gambut, pengurangan risiko kebakaran, peningkatan ketahanan ekosistem, serta penguatan kesejahteraan sosial.

Ketiga, peluang blended finance, yaitu kombinasi antara dana publik, pembiayaan berbasis hasil, filantropi, dan investasi swasta.

Keempat, scalability, karena model ini berpotensi direplikasi di wilayah lain yang memiliki konteks ekologi, sosial, dan ekonomi serupa.

Dengan memposisikan intervensi lingkungan sebagai aset pembangunan wilayah, GREEN for Riau memungkinkan investor publik dan swasta berkontribusi pada tujuan iklim sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi lokal yang inklusif.

6. Arah Kebijakan

GREEN for Riau merupakan vehicle strategis untuk menjembatani kesenjangan pendanaan iklim sekaligus mendorong transformasi ekonomi dan sosial di Provinsi Riau secara inklusif.

Melalui integrasi agenda iklim, ekonomi, dan kesejahteraan sosial, inisiatif ini berpotensi menjadi contoh praktik baik pembangunan berkelanjutan yang mendukung pencapaian 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).

Dengan berbasis pada pengetahuan lokal, kepemimpinan daerah, partisipasi masyarakat, dan standar integritas yang tinggi, GREEN for Riau dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Riau, khususnya masyarakat adat dan komunitas lokal.

Lebih jauh, inisiatif ini juga dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap target iklim nasional dan global. Riau memiliki peluang untuk menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi, perlindungan hutan dan gambut, pengurangan emisi, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat berjalan dalam satu arah transformasi yang saling menguatkan.

Penulis:

Bambang Arifatmi

  • Country Coordinator UNEP UN-REDD Indonesia
  • ⁠⁠Kepala Bidang Inovasi Terapan Ekonomi Hijau, HA IPB

Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan dan opini penulis secara pribadi, serta tidak selalu mencerminkan pandangan, kebijakan, maupun posisi resmi GREEN for Riau beserta para mitra pelaksananya.