Batam, 22 April 2026 – Pemantauan hutan yang akurat dan konsisten bergantung pada data yang bagus, namun pengumpulan informasi berkualitas tinggi di wilayah yang luas dan beragam tetap menjadi tantangan. Untuk menghadapi hal ini, Program UN-REDD menyelenggarakan pelatihan teknis mengenai pengumpulan data dan penilaian ketidakpastian menggunakan citra satelit di Batam pada tanggal 13 hingga 22 April 2026, dengan dukungan dari Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO).

Diselenggarakan sebagai bagian dari inisiatif Green for Riau, pelatihan ini mengumpulkan 22 peserta dari Direktorat Inventarisasi dan Pemantauan Sumber Daya Hutan (IPSDH) dan Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) di seluruh Sumatra, serta tim Monitoring, Reporting, and Verification (MRV) Riau.

Lokakarya ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan teknis peserta dalam interpretasi citra satelit, klasifikasi penggunaan lahan, dan deteksi perubahan dengan protokol standar, sekaligus mendukung penilaian ketidakpastian untuk pengembangan Forest Reference Emission Level (FREL) Provinsi Riau.

Mengapa pengumpulan data itu penting?

Di wilayah seperti Riau, dimana lanskapnya dinamis dan terdiri dari berbagai jenis hutan, perkebunan, dan lahan gambut, peningkatan kualitas data acuan sangat penting untuk mendukung kebijakan dan tindakan. Memperkuat proses pengumpulan dan interpretasi data membantu memastikan bahwa perubahan seperti kehilangan hutan, degradasi, dan pemulihan dapat didokumentasikan secara akurat.

Pemantauan hutan yang andal tidak hanya memerlukan akses ke citra satelit, tetapi juga interpretasi citra yang konsisten dan metodologi yang kuat. Perbedaan interpretasi, kesalahan klasifikasi, dan pendekatan pengambilan sampel yang tidak konsisten dapat menimbulkan ketidakpastian, yang memengaruhi akurasi perkiraan penggunaan lahan dan membatasi penggunaannya untuk tujuan perencanaan dan pelaporan.

“Penilaian ketidakpastian yang kokoh sangat penting untuk memperkuat pemantauan hutan dan memastikan bahwa data yang kami hasilkan konsisten dan andal. Dengan mengumpulkan para ahli dari BPKH di seluruh Sumatra, kami memiliki kesempatan berharga untuk berbagi pengetahuan dan meningkatkan kapasitas kolektif kami, terutama dalam menafsirkan citra satelit dan mendukung sistem MRV yang lebih kuat di Riau,” kata Job Kurniawan, Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Riau, saat pembukaan lokakarya.

Memperkuat pengumpulan data dengan platform berbasis cloud FAO, Collect Earth Online

Paing Phyo, Remote Sensing and Land Cover Assessment Specialist FAO, memandu para peserta melalui alur kerja Collect Earth Online dan protokol pengumpulan data selama pelatihan. (FAO/Ifa Miftah)

Lokakarya ini memperkenalkan para peserta pada platform terbuka FAO, Collect Earth Online, sebuah platform berbasis cloud yang memungkinkan siapa pun melacak perubahan penggunaan lahan dan lanskap di mana saja melalui interpretasi visual citra satelit resolusi tinggi. Platform ini mengintegrasikan berbagai sumber data seperti citra time series dan berbagai lapisan data geospasial, serta membantu pengguna menilai kualitas data menggunakan protokol standar. CEO telah digunakan secara luas di seluruh dunia, dengan pengguna yang berasal dari lebih dari 50 negara.

Lokakarya ini juga mengajarkan para peserta untuk melakukan pengumpulan data guna penilaian ketidakpastian dan interpretasi penggunaan lahan, sehingga membantu peserta secara konsisten membedakan antara kelas hutan dan non-hutan di berbagai kondisi lanskap.

Dari pelatihan hingga pengumpulan data dalam skala besar

Job Kurniawan, Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Riau (tengah), bersama para peserta dan penyelenggara pelatihan. (FAO/Ifa Miftah)

Dengan menggunakan platform CEO, para peserta melaksanakan alur kerja pengumpulan data secara menyeluruh. Proses ini mencakup interpretasi sampel, klasifikasi menggunakan kategori penggunaan lahan yang telah ditentukan sebelumnya, serta pencatatan hasil melalui kartu penilaian terstruktur. Latihan praktik langsung ini membantu mereka mengidentifikasi kondisi dan perubahan penggunaan lahan, seperti deforestasi, degradasi, dan pemulihan. Terakhir, para peserta belajar melakukan penilaian dan tinjauan kualitas untuk memastikan data yang dikumpulkan akurat, konsisten, dan dapat diandalkan.

Secara total, sekitar 5.000 titik sampel dikoleksi, yang didistribusikan melalui desain pengambilan sampel acak sistematis dan bertingkat untuk meningkatkan representativitas dan mengurangi ketidakpastian di Provinsi Riau. Data yang dikumpulkan melalui kegiatan ini akan dianalisis lebih lanjut untuk mengukur ketidakpastian dan meningkatkan akurasi hasil pemantauan hutan di Riau. Kumpulan data ini juga diharapkan dapat mendukung berbagai kebutuhan pelaporan, menunjukkan nilai dari pendekatan serbaguna di mana data yang dikumpulkan sekali dapat memenuhi kerangka kerja dan persyaratan yang berbeda.

Selain menggabungkan pelatihan teknis dengan penerapan praktis, lokakarya ini memfasilitasi pertukaran pengetahuan aktif di antara peserta yang memiliki pengalaman kuat dalam interpretasi data spasial, membantu menyelaraskan metodologi antar lembaga. Dengan memanfaatkan alat seperti CEO, pemantauan hutan dapat ditingkatkan untuk memberikan informasi yang lebih baik bagi pengambilan keputusan lingkungan serta akses yang lebih luas terhadap pendanaan iklim.