Pekanbaru, 9 Juni 2026 – Inisiatif GREEN for Riau (Growing Resilient Through Emission Reduction, Community Empowerment and Ecosystem Restoration for Nurturing Future) terus memperkuat kolaborasi multipihak dalam mendukung pembangunan rendah emisi dan pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan di Provinsi Riau. Melalui kegiatan GREEN for Riau Goes to Campus yang diselenggarakan di Auditorium Pascasarjana Universitas Islam Riau (UIR), mahasiswa diajak memahami pendekatan REDD+ sekaligus mengambil peran aktif dalam mitigasi perubahan iklim dan restorasi ekosistem.
Dalam sambutannya, Bambang Arifatmi, Ph.D, Country Coordinator UNEP UN-REDD Programme Indonesia, menegaskan bahwa Riau memiliki posisi strategis dalam sistem ekologis global karena ekosistem gambutnya yang menjadi salah satu penyimpan karbon terbesar di dunia. Ia mengingatkan bahwa dunia saat ini menghadapi triple planetary crisis berupa perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pencemaran lingkungan. Menurutnya, GREEN for Riau merupakan gerakan kolektif yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan, teknologi, data, kebijakan, dan nilai-nilai moral dalam pengelolaan lingkungan. Ia juga menekankan pentingnya penerapan prinsip Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) serta mendorong mahasiswa menjadi agen perubahan melalui riset, inovasi, edukasi, dan aksi nyata untuk mendukung pembangunan hijau.
“Mahasiswa harus menjadi agen perubahan yang mampu menghadirkan inovasi, mendorong kebijakan berbasis bukti, serta menyebarkan narasi positif tentang pembangunan hijau dan berkelanjutan di Riau,” ujarnya.
Pada sesi kuliah umum,** Danang Kabul Sukresno**, Provincial Coordinator for UNEP, menjelaskan bahwa Riau memiliki sekitar 4,9 juta ha gambut yang berperan penting dalam menyerap karbon. Namun, provinsi ini masih menghadapi berbagai tantangan, seperti deforestasi, degradasi hutan, kebakaran hutan dan lahan, konflik pemanfaatan ruang, serta kerentanan sosial-ekonomi masyarakat. Ia menjelaskan bahwa GREEN for Riau didukung oleh UNEP, FAO, Pemerintah Provinsi Riau, dan berbagai mitra pembangunan melalui pendekatan yurisdiksional di tingkat provinsi. Program ini berfokus pada tiga pilar utama, yaitu pengurangan emisi gas rumah kaca, pemberdayaan masyarakat, dan restorasi ekosistem gambut serta mangrove, dengan dukungan kolaborasi pemerintah, akademisi, masyarakat, media, dan mitra pembangunan.
Sementara itu, Abdul Madian, S.T., M.T., perwakilan Bappeda Provinsi Riau, menjelaskan bahwa GREEN for Riau merupakan langkah strategis untuk membuka akses pendanaan iklim internasional berbasis kinerja pengurangan emisi. Menurutnya, UNEP dan FAO saat ini mendukung proses readiness agar Riau memenuhi standar internasional yang diperlukan dalam skema pendanaan karbon. Ia menegaskan bahwa berbagai dokumen kebijakan pembangunan rendah emisi dan target Net Zero Emission telah tersedia, namun keberhasilannya sangat bergantung pada implementasi dan kolaborasi multipihak. Selain itu, mekanisme pembagian manfaat (Benefit Sharing Mechanism) tengah disusun agar manfaat pengurangan emisi dapat dirasakan secara adil oleh pemerintah, masyarakat, perguruan tinggi, dan kelompok masyarakat lainnya.
Dr. Matnuril, S.IP., M.Si., Kepala Bidang Perencanaan dan Pemanfaatan Hutan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Riau, menegaskan bahwa keberhasilan implementasi REDD+ dan Green for Riau bergantung pada kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, termasuk kalangan akademisi dan generasi muda. Menurutnya, Pemerintah Provinsi Riau saat ini tengah memperkuat fondasi kebijakan dan kelembagaan untuk mendukung upaya penurunan emisi yang berkelanjutan.

“Persiapan yang sedang dilakukan hari ini merupakan investasi untuk masa depan. Karena itu, kami mengajak mahasiswa untuk menjadi bagian dari proses ini melalui penguatan kapasitas, riset, dan aksi nyata di lapangan,” katanya.
Sementara itu, Prof. Dr. Suwondo, Tenaga Ahli Mitigasi Action Plan Green for Riau menyoroti pentingnya dukungan ilmu pengetahuan dan inovasi dalam mendukung agenda pembangunan hijau. Ia menegaskan bahwa perguruan tinggi merupakan mitra strategis dalam mendukung agenda Green for Riau melalui riset, inovasi, dan pengembangan solusi berbasis ilmu pengetahuan. Ia mengajak mahasiswa untuk mengambil peran aktif dalam berbagai program lingkungan dan pembangunan berkelanjutan, mengingat generasi muda akan menjadi penerus upaya transformasi hijau yang sedang dibangun saat ini.
“Keberhasilan Green for Riau membutuhkan dukungan ilmu pengetahuan, riset, dan keterlibatan generasi muda. Mahasiswa tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi harus menjadi bagian dari solusi melalui penelitian, inovasi, dan aksi nyata di lapangan,” ujarnya.
Mewakili Rektor Universitas Islam Riau, Dr. Dede Ardian, S.P., M.Pd., menyampaikan dukungan penuh terhadap berbagai inisiatif pembangunan berkelanjutan di Provinsi Riau. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menghasilkan penelitian, inovasi, dan rekomendasi kebijakan yang dapat mendukung pengelolaan lingkungan dan pembangunan daerah yang berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, GREEN for Riau dan Universitas Islam Riau berkomitmen memperkuat kolaborasi dalam bidang riset, edukasi lingkungan, pengabdian masyarakat, serta pengembangan kapasitas generasi muda. Keterlibatan mahasiswa diharapkan mampu memperluas gerakan aksi iklim di tingkat lokal sekaligus memperkuat posisi Riau sebagai contoh pembangunan hijau yang menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi, perlindungan lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat.
