Pekanbaru, 24 April 2026 — GREEN for Riau menyelenggarakan Webinar GREEN for Riau #1 bertajuk “Karhutla di Riau: Apa yang Perlu Kita Pahami dan Antisipasi?” pada Jumat, 24 April 2026.

Webinar ini menjadi ruang pembelajaran dan komunikasi publik yang mempertemukan perspektif cuaca dan iklim, kesiapsiagaan pemerintah daerah, sains dan teknologi, serta praktik kolaborasi di tingkat tapak untuk memperkuat pencegahan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Provinsi Riau.

Kegiatan ini menghadirkan empat narasumber, yaitu Warjono, S.Si., M.Kom., Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru; M. Edy Afrizal, S.E., M.H., Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBDPK) Provinsi Riau; Zulfan, M.Si., Kepala BPBD Kabupaten Pelalawan sekaligus Tim Pokja Klaster Pelalawan; serta Dr. Ati Dwi Nurhayati, S.Hut., M.Si., Tenaga Ahli Forest Fire Prevention GREEN for Riau.

Karhutla sebagai Tantangan Lanskap dan Iklim

Webinar diawali dengan sambutan Bambang Arifatmi, Country Coordinator UNEP UN-REDD Programme Indonesia. Ia menegaskan bahwa karhutla bukan persoalan yang berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan pengelolaan lanskap dan ekosistem gambut, tekanan ekonomi, serta dampak perubahan iklim.

Karena itu, penanganan karhutla perlu dilakukan secara sistematis, berbasis data, dan berorientasi pada pencegahan jangka panjang. Bambang juga mendorong pergeseran pendekatan dari respons darurat menuju pencegahan melalui tata guna lahan berkelanjutan, penguatan kapasitas di tingkat tapak, keterlibatan dunia usaha, serta peran aktif masyarakat.

Mewakili Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Riau, Dr. Matnuril, S.IP., M.Si., M.H., secara resmi membuka webinar. Ia menyampaikan bahwa forum ini relevan dengan upaya GREEN for Riau dalam menekan deforestasi dan degradasi hutan, yang berkaitan erat dengan karhutla.

Ia menekankan pentingnya patroli rutin, deteksi dini, pengelolaan gambut, serta koordinasi yang intensif antara pemerintah, pemegang izin, dunia usaha, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya.

Memahami Risiko Iklim dan Musim Kering di Riau

Pada sesi pertama, Warjono memaparkan karakteristik musim di Riau dan pengaruh dinamika iklim terhadap risiko karhutla. Ia menjelaskan bahwa wilayah Riau memiliki pola musim yang berbeda-beda sehingga pendekatan antisipasinya perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah.

BMKG memprediksi potensi El Niño berada pada kategori lemah hingga moderat, namun kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan.

“Kemarau kita tahun ini datang lebih awal dan lebih panjang,” ujarnya.

Menurut Warjono, kondisi tahun 2026 diperkirakan lebih kering dibandingkan 2023, meskipun tidak sekering kondisi pada 2015 dan 2019. Informasi ini menjadi penting agar pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan dapat memperkuat kesiapsiagaan sebelum risiko kebakaran meningkat.

Kesiapsiagaan Daerah dan Peran Bersama

M. Edy Afrizal selanjutnya mengulas situasi karhutla, tantangan kesiapsiagaan, dan peran bersama dalam pencegahan di tingkat provinsi. Ia menyampaikan bahwa 10 dari 12 kabupaten/kota di Riau telah menetapkan status siaga darurat karhutla.

Paparannya menyoroti perlunya kesiapan personel dan peralatan, penguatan koordinasi, pemantauan titik panas, serta pelibatan masyarakat melalui patroli, pemeriksaan lapangan, dan penyebarluasan informasi peringatan dini.

Ia juga mengingatkan bahwa praktik pembukaan lahan dengan cara membakar masih dipandang oleh sebagian pihak sebagai cara yang mudah, murah, dan cepat. Karena itu, edukasi serta alternatif pengelolaan lahan tanpa bakar perlu terus diperkuat.

Pembelajaran dari Klaster Karhutla di Pelalawan

Dari tingkat tapak, Zulfan membagikan pengalaman Kabupaten Pelalawan dalam menjalankan klaster pengendalian karhutla terpadu.

“Di Kabupaten Pelalawan saat ini sudah terbentuk klaster penanggulangan kebakaran hutan dan lahan secara terpadu,” jelasnya.

Klaster tersebut melibatkan unsur pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat, serta membagi tanggung jawab berdasarkan rayon untuk mendukung pencegahan dan pengendalian karhutla secara bersama.

Zulfan juga menyampaikan sejumlah tantangan, terutama terkait pendanaan kegiatan dan belum optimalnya partisipasi sebagian anggota klaster. Pembelajaran dari Pelalawan menunjukkan bahwa pengendalian karhutla membutuhkan koordinasi yang kuat, dukungan sumber daya, serta komitmen berkelanjutan dari seluruh pihak.

Sains, Teknologi, dan Sistem Peringatan Dini

Menutup sesi paparan, Dr. Ati Dwi Nurhayati menjelaskan pemanfaatan teknologi dan sains dalam pengendalian karhutla menghadapi El Niño. Analisis data historis kebakaran periode 2016–2024 digunakan untuk memetakan kerentanan dan menentukan prioritas strategi.

Menurutnya, pengendalian karhutla perlu memadukan sistem peringatan dini, pengelolaan air dan gambut, peningkatan kapasitas masyarakat, insentif bagi praktik berkelanjutan, serta tata kelola kolaboratif.

Pengelolaan kebakaran secara terpadu juga memerlukan perencanaan yang sistematis, koordinasi kelembagaan, dan dukungan pendanaan yang memadai agar strategi pencegahan dapat diterapkan secara efektif di lapangan.

Menerjemahkan Informasi Iklim menjadi Aksi di Tingkat Tapak

Diskusi bersama peserta memperlihatkan luasnya perhatian terhadap pencegahan karhutla, mulai dari koordinasi lintas instansi, mitigasi pada lahan gambut, pembiayaan klaster, hingga penguatan peran masyarakat dan dunia usaha.

Pertukaran gagasan tersebut menegaskan bahwa informasi iklim dan peringatan dini harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata sampai ke tingkat desa dan wilayah rawan.

Melalui webinar ini, GREEN for Riau mendorong pemahaman bahwa karhutla bukan sekadar kejadian musiman, tetapi tantangan bersama yang berkaitan dengan pengelolaan lanskap, ketahanan ekosistem, perlindungan masyarakat, dan penurunan emisi dari sektor berbasis lahan.

Kolaborasi pemerintah, dunia usaha, akademisi, organisasi masyarakat sipil, komunitas lokal, dan mitra pembangunan menjadi fondasi penting untuk memperkuat pencegahan karhutla dan mendukung implementasi REDD+ berbasis yurisdiksi di Provinsi Riau.