Pekanbaru, Riau – Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) bersama GREEN for Riau Initiative menyelenggarakan sosialisasi dalam bentuk kuliah umum bertajuk “Pendekatan REDD+ dan Implementasinya di Provinsi Riau” sebagai upaya meningkatkan pemahaman generasi muda mengenai perubahan iklim, pengelolaan hutan berkelanjutan, serta peluang karbon yurisdiksi berkelanjutan dalam mendukung pembangunan rendah karbon di Provinsi Riau yang digelar di Aula Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Riau, Jalan Kyai Haji Ahmad Dahlan, Pekanbaru. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Unit Pusat Kajian Gambut dan Mangrove di bawah pimpinan Bapak Aidil Haris, dan dihadiri Wakil Rektor II UMR.
Kegiatan yang dihadiri mahasiswa, akademisi, pemerintah daerah, dan praktisi lingkungan ini menjadi ruang diskusi untuk memperkuat kolaborasi multipihak (pentahelix) dalam menjawab tantangan dan permasalahan perubahan iklim sekaligus mendorong pembangunan yang berkelanjutan. Sebagai salah satu provinsi dengan ekosistem hutan tropis dan gambut yang luas, Riau memiliki peran strategis dalam upaya penurunan emisi nasionak serta perlindungan keanekaragaman hayati.
Acara dibuka dengan sambutan dari UNEP UN-REDD Country Coordinator yang diwakili oleh Dr. Masrizal Saraan, S.Hut, M.Si (Direktur PETAI), kemudian secara resmi dibuka oleh Dr. Aidil Haris, S.Sos., M.Si. selaku Ketua Pusat Kajian Gambut dan Mangrove. Hadir pula Wakil Ketua Pusat Studi Gambut dan mangrove Dr Widat Irma, SPd., MSi.
Dalam sambutannya, Wakil Rektor UMRI, Dr. Aidil Hasri, menegaskan bahwa perlindungan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan keterlibatan pemerintah, akademisi, swasta, dan masyarakat. Menurutnya, perguruan tinggi berperan penting dalam membangun kesadaran serta kapasitas generasi muda untuk menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan lingkungan saat ini.
Provincial Coordinator UNEP, Danang Kabul Sukresno, menjelaskan bahwa GREEN for Riau dikembangkan sebagai hub kolaborasi untuk mendukung tata kelola lanskap yang berkelanjutan melalui perlindungan Hutan, Gambut dan mangrove , pengurangan emisi gas rumah kaca, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pendekatan REDD+ membuka peluang bagi Riau untuk menghubungkan upaya preservasi dan konservasi dengan akses terhadap pendanaan IKLIM berbasis kinerja dan ekonomi karbon.
Sementara itu, Abdul Madian dari Bappeda Riau menjelaskan bahwa pembangunan rendah karbon merupakan bagian dari pembangunan daerah. Menurutnya, keberhasilan implementasi berbagai program lingkungan memerlukan kolaborasi lintas sektor, sekaligus dukungan sumber pembiayaan inovatif yang dapat memperkuat upaya perlindungan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan di daerah.
Di sesi berikutnya, Dr. Matnuril, dari Dinas LHK Riau, memaparkan pentingnya menjaga hutan sebagai salah satu solusi utama dalam menghadapi perubahan iklim. Ia mengajak mahasiswa untuk memahami bahwa pengurangan emisi tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada perubahan perilaku dan aksi nyata masyarakat dalam menjaga lingkungan.
Tenaga Ahli GREEN for Riau, Prof. Suwondo menjelaskan perkembangan kebijakan perdagangan karbon di Indonesia yang semakin membuka peluang bagi daerah untuk memperoleh manfaat dari upaya perlindungan hutan dan lahan. Menurutnya, potensi Riau sangat besar, namun harus didukung oleh tata kelola yang transparan, data kredibel, dan sistem pemantauan yang kuat agar manfaat sosial dan ekonomi yang dihasilkan dapat berkontribusi pada pelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.
Paparan ditutup oleh Ibu Wening Parlan, Direktur Eco Bhineka Muhammadiyah, yang memberikan insight mendalam tentang REDD+ dari aspek keagamaan. Ibu Wening Parlan menekankan perlunya civitas akademika berperan sebagai agen perubahan dalam perbaikan lingkungan, sebagaimana diajarkan dalam nilai-nilai Islam.
Tak hanya mendengarkan, peserta juga aktif dalam sesi diskusi serta tukar-menukar pengalaman dan perspektif antara narasumber dan peserta. Antusiasme tinggi terlihat dari organisasi pecinta alam (Mapala) dan civitas akademika UMR yang menyatakan ketertarikan serius terhadap Program GREEN for Riau. Mereka berkomitmen untuk siap mendukung implementasi program tersebut pada saatnya nanti. Lebih menarik lagi, sejumlah mahasiswa yang hadir ternyata sudah pernah tergabung dalam program dan kegiatan Folunet Sink 2030 Provinsi Riau. Pengalaman ini sedikit banyak sangat membantu peserta lain dalam memahami secara lebih cepat dan utuh substansi Program GREEN for Riau.
Acara yang berlangsung hangat, interaktif, dan penuh makna ini ditutup dengan seremonial tukar cendera mata antara narasumber dan penyelenggara, serta diabadikan melalui foto bersama seluruh peserta.
Diperoleh rumusan Bersama tentang GREEN for Riau Initiative sebagai Program strategis dan inovatif untuk pelestarian lingkungan berbasis mitigasi perubahan iklim, khususnya dalam pengelolaan gambut dan mangrove di Provinsi Riau.
