Pelalawan, Riau, 29–30 Juli 2026 — Perjalanan menuju Semenanjung Kampar bukanlah perjalanan yang singkat. Dari Pangkalan Kerinci, rombongan harus menempuh perjalanan darat selama beberapa jam sebelum melanjutkannya dengan perahu menyusuri sungai berair hitam khas lanskap gambut. Namun, begitu memasuki kawasan tersebut, perjalanan panjang itu seolah terbayar.
Di hamparan hutan rawa gambut yang masih terjaga ini, tersimpan berbagai pelajaran penting tentang bagaimana alam dapat dipulihkan, karbon dapat dijaga, dan masyarakat dapat tumbuh bersama upaya konservasi.
Pada 29–30 Juli 2026, delegasi Pemerintah Provinsi Riau berkesempatan melihat langsung berbagai praktik restorasi yang dilakukan oleh Restorasi Ekosistem Riau (RER) di Semenanjung Kampar.
Delegasi Pemerintah Provinsi Riau dipimpin oleh Asisten II Sekretariat Daerah Provinsi Riau sekaligus Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Riau, M. Job Kurniawan, AP., M.Si., dan Kepala Bappeda Provinsi Riau, Purnama Irawansyah, S.Hut., M.M., didampingi Abdul Madian, S.T., M.M. dan Dr. Matnuril, S.IP., M.Si.
Dari United Kingdom – Foreign, Commonwealth and Development Office (UK-FCDO), hadir Judith A’Bear, Head of Climate Policy and Finance; Saul Hathaway; Widya Anantya, Programme Manager for Forest and Land Use; dan Erfa Canisthya, Climate Change Policy Officer. UNEP diwakili langsung oleh Bambang Arifatmi, Ph.D., Country Coordinator. Dari FAO hadir Mohamad Ridlo dan Dyah Ratri, sementara PETAI diwakili oleh Dr. Masrizal Saraan.
Kunjungan tersebut bukan sekadar agenda lapangan. Bagi banyak peserta, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk memahami bagaimana tantangan perubahan iklim diterjemahkan menjadi tindakan nyata di tingkat tapak.
Setibanya di Pangkalan Kerinci, rombongan disambut oleh jajaran APRIL Group dan RER, terdiri dari Direktur External Affairs APRIL Group, Mulia Siregar, didampingi Nyoman Iswarayoga, Head of External Affairs and RER Communications; John Pereira, Deputy Head of Operations at RER; Wawan Gunawan, Planning and Government Manager; serta Khairul Basyar, Environment and NGO Relation Manager.
Dalam diskusi pembuka, John Pereira memaparkan berbagai upaya perlindungan dan pemulihan ekosistem yang dilakukan di kawasan seluas lebih dari 150 ribu hektare yang membentang di Semenanjung Kampar dan Pulau Padang.
Di kawasan ini, pemulihan ekosistem tidak hanya berarti menjaga hutan tetap berdiri. Pekerjaan restorasi juga mencakup pencegahan kebakaran, perlindungan keanekaragaman hayati, penelitian ilmiah, pemulihan tata air gambut, hingga kemitraan dengan masyarakat sekitar.
Menara yang Membaca Napas Hutan
Salah satu lokasi yang paling menarik perhatian peserta adalah Greenhouse Gas Flux Tower atau Menara Fluks Gas Rumah Kaca.
Menara penelitian yang berdiri di tengah hutan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, dari sanalah para peneliti dapat memahami bagaimana hutan gambut berinteraksi dengan atmosfer.
Melalui teknologi yang dikenal sebagai Eddy Covariance, instrumen pada menara merekam pergerakan karbon dioksida yang keluar dan masuk dari ekosistem. Data yang dikumpulkan secara berkala membantu menjawab pertanyaan penting: apakah hutan sedang menyerap karbon atau justru melepaskannya ke atmosfer?
Bagi para pengambil kebijakan, informasi ini sangat berharga. Perubahan iklim bukan lagi isu yang hanya dibahas dalam ruang rapat atau forum internasional. Di Semenanjung Kampar, perubahan iklim dapat diamati melalui data yang dikumpulkan dari jantung hutan gambut.
Di kaki menara, diskusi berlangsung hangat. Para peneliti menjelaskan bagaimana perubahan musim, kondisi vegetasi, hingga tinggi muka air tanah dapat memengaruhi emisi karbon dari lahan gambut.
Kawasan ini menunjukkan bahwa menjaga hutan bukan hanya soal melindungi pohon, tetapi juga memahami proses ekologis yang berlangsung di dalamnya.
Restorasi Dimulai dari Air
Jika banyak orang menganggap restorasi identik dengan menanam pohon, Semenanjung Kampar menawarkan perspektif yang berbeda.
Di sini, langkah pertama pemulihan justru dilakukan dengan menjaga air.
Rombongan mengunjungi sejumlah sekat kanal yang dibangun untuk mengatur aliran air di lahan gambut. Struktur tersebut berfungsi menahan air agar tetap berada di dalam kubah gambut, sekaligus mencegah pengeringan yang dapat meningkatkan risiko kebakaran.
Kanal-kanal yang ada saat ini sebagian merupakan peninggalan aktivitas masa lalu. Ketika air mengalir keluar terlalu cepat, gambut menjadi kering dan mudah terbakar. Dalam kondisi tersebut, cadangan karbon yang tersimpan selama ribuan tahun perlahan terlepas ke atmosfer.
Karena itu, memulihkan gambut tidak cukup dengan menanam vegetasi baru. Tata air harus terlebih dahulu dipulihkan agar ekosistem dapat kembali berfungsi secara alami.
Pelajaran sederhana namun mendasar dari Semenanjung Kampar adalah bahwa menjaga air berarti menjaga gambut.

Ketika Nelayan Menjadi Mitra Konservasi
Di Sungai Serkap, restorasi mengambil bentuk yang berbeda.
Di sini, masyarakat bukan objek program, melainkan bagian dari upaya perlindungan kawasan.
Melalui kelompok seperti Serkap Jaya Lestari, para nelayan didorong menerapkan praktik perikanan yang lebih ramah lingkungan. Penggunaan racun dan alat setrum dihindari, sementara pencatatan hasil tangkapan dilakukan secara rutin untuk memantau kondisi sumber daya ikan.
Yang tidak kalah penting, para nelayan menjadi sumber informasi mengenai kondisi sungai dan kawasan sekitarnya. Mereka mengenali perubahan musim, pola migrasi ikan, dan berbagai tanda gangguan lingkungan yang mungkin tidak tertangkap oleh sistem pemantauan formal.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan konservasi sering kali bergantung pada keterlibatan masyarakat yang hidup berdampingan dengan kawasan tersebut.
Ketika masyarakat memperoleh manfaat dan ruang untuk terlibat, perlindungan lingkungan menjadi lebih kuat dan berkelanjutan.
Menumbuhkan Hutan Secara Alami
Di persemaian RER yang tidak begitu jauh dari lokasi canal blocking, ribuan bibit pohon asli gambut tumbuh dalam polybag yang tersusun rapi.
Bibit tersebut sebagian berasal dari anakan alami yang dikumpulkan dari hutan dan dipelihara sebelum ditanam kembali di kawasan yang mengalami degradasi.
Namun, tidak semua area dipulihkan melalui penanaman.
Pada lokasi yang masih memiliki sumber benih alami dan kondisi ekologis yang memadai, pemulihan dilakukan dengan membiarkan alam bekerja. Tugas pengelola adalah memastikan kawasan terlindungi dari kebakaran, perambahan, dan gangguan lainnya sehingga regenerasi dapat berlangsung secara alami.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa restorasi bukan tentang mengganti alam, melainkan membantu alam untuk pulih.

Membangun Pendekatan Yurisdiksi untuk Riau
Selain melihat praktik restorasi di lapangan, kunjungan ini juga menjadi kesempatan untuk membahas bagaimana pengalaman dari Semenanjung Kampar dapat mendukung agenda iklim yang lebih luas di Provinsi Riau. Salah satu fokus diskusi adalah pengembangan pendekatan yurisdiksi REDD+ melalui GREEN for Riau Initiative.
Pendekatan yurisdiksi REDD+ bertujuan memperkuat koordinasi pentahelix dalam mendukung upaya pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan di tingkat provinsi. Dalam konteks ini, berbagai inisiatif yang telah berjalan, termasuk proyek restorasi ekosistem dan program karbon yang dikembangkan oleh sektor swasta, dipandang sebagai bagian penting dalam pencapaian target iklim Provinsi Riau.
Para peserta juga membahas konsep nesting, yaitu bagaimana kegiatan dan manfaat dari proyek-proyek tingkat tapak dapat diintegrasikan ke dalam kerangka yurisdiksi yang lebih luas.
Pendekatan ini diharapkan dapat memberikan kejelasan bagi proyek-proyek yang sudah berjalan maupun mendorong investasi baru di masa depan, sekaligus memastikan bahwa kontribusi sektor swasta tetap diakui dan selaras dengan tujuan pembangunan rendah karbon Provinsi Riau.
Diskusi selama kunjungan juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, sektor swasta, dan mitra pembangunan dalam mendukung upaya pengurangan emisi dan pembangunan rendah karbon di Riau.

Pelajaran dari Semenanjung Kampar
Menjelang akhir kunjungan, satu pesan menjadi semakin jelas.
Keberhasilan restorasi tidak ditentukan hanya oleh berapa banyak pohon yang ditanam atau berapa luas kawasan yang dipagari. Keberhasilan restorasi ditentukan oleh kemampuan menjaga keseluruhan sistem tetap bekerja: air tetap tersimpan di dalam kubah gambut, karbon tetap terjaga, satwa liar memiliki habitat yang aman, dan masyarakat memperoleh manfaat dari ekosistem yang sehat.
Semenanjung Kampar memperlihatkan bahwa restorasi adalah pekerjaan jangka panjang yang membutuhkan ilmu pengetahuan, kesabaran, investasi, dan kolaborasi.
Di tengah meningkatnya tantangan perubahan iklim, pengalaman dari bentang alam gambut ini memberikan harapan bahwa pemulihan ekosistem bukan hanya mungkin dilakukan, tetapi juga dapat menghasilkan manfaat nyata bagi lingkungan dan manusia.
Di tempat seperti inilah, upaya menjaga karbon pada akhirnya bermuara pada tujuan yang lebih besar: merawat kehidupan.
