Indonesia memiliki lebih dari lima belas juta hektar lahan gambut, menjadikannya salah satu penyimpan karbon terbesar di dunia. Namun, selama beberapa dekade, drainase untuk perkebunan sawit dan akasia telah mengubah ekosistem ini menjadi sumber emisi besar. Kebakaran gambut menimbulkan kabut asap lintas batas, mengganggu kesehatan jutaan orang, dan menimbulkan kerugian ekonomi yang signifikan. Di tengah tantangan tersebut, muncul sebuah pendekatan yang menggabungkan restorasi ekosistem dengan inovasi ekonomi hijau: paludikultur sagu dan pengembangan bioplastik.

Sagu (Metroxylon sagu) adalah tanaman yang tumbuh alami di lahan gambut tergenang. Ia tidak memerlukan drainase, mampu menyerap karbon, dan menghasilkan pati dalam jumlah tinggi. Dari perspektif agronomi, sagu menawarkan hasil hingga dua puluh lima ton pati per hektar per tahun, dan empat kali lebih tinggi dibandingkan padi atau jagung. Ketika ditanam di lahan gambut yang direwetting (pembasahan), sagu tidak hanya memulihkan fungsi hidrologi tetapi juga menciptakan sumber pendapatan baru bagi masyarakat lokal.

Keunggulan sagu sebagai bahan bioplastik telah diuji secara ilmiah. Wageningen University and Research melakukan penelitian tahap kedua yang menunjukkan bahwa pati sagu memiliki sifat gelatinisasi dan pembentukan film yang unik, menjadikannya sangat cocok untuk thermoplastic starch (TPS) films. Penelitian ini juga menghasilkan prototipe film bioplastik berbasis sagu dengan biaya produksi sekitar €2,5 per kilogram, kompetitif dengan film berbasis singkong. Hasil uji coba menunjukkan bahwa sagu dapat memenuhi standar biodegradasi Eropa (TÜV), membuka peluang ekspor ke pasar premium. Fakta ini menjadi bukti bahwa rantai nilai sagu–bioplastik bukan hanya konsep, tetapi telah melewati verifikasi ilmiah di tingkat internasional.

Infografis Rantai Nilai Sagu–Bioplastik: proses diuji di Wageningen University & Research

Setelah panen, batang sagu diolah menjadi pati melalui proses tradisional maupun industri. Di beberapa lokasi, bundelan sagu dibungkus daun dan difermentasi secara alami, sementara di fasilitas modern, mesin stainless steel memproses pati dengan efisiensi tinggi. Tahapan ini menjadi jembatan antara pengetahuan lokal dan teknologi modern.

Pati sagu kemudian menjadi bahan dasar untuk bioplastik biodegradable, menggantikan plastik petro kimia yang mencemari laut dan sungai. Produk bioplastik berbasis sagu seperti kantong belanja, gelas, sedotan, dan alat makan menjadi bukti nyata bahwa inovasi dapat berakar dari ekosistem tropis. Melalui sistem MRV digital dan sertifikasi karbon, setiap hektar lahan yang direwetting dan setiap ton bioplastik yang dihasilkan dapat dihitung kontribusinya terhadap pengurangan emisi. Kredit karbon yang dihasilkan memberi nilai ekonomi tambahan bagi koperasi sosial kehutanan yang mengelola lahan.

Rantai nilai ini tidak berhenti pada aspek teknis. Di tingkat sosial, program ini memperkuat Perhutanan Sosial, memberikan kepastian tenurial bagi masyarakat, dan membuka peluang kerja baru. Perempuan terlibat aktif dalam pengolahan dan tata kelola koperasi, sementara generasi muda menemukan prospek karier di industri bioplastik yang berkelanjutan. Pendapatan dari pati, bioplastik, dan kredit karbon menciptakan ekosistem ekonomi yang tangguh dan inklusif.

Dampak lingkungan juga terasa nyata. Rewetting gambut menghindari lebih dari dua puluh ton CO₂e per hektar per tahun, mengurangi risiko kebakaran, dan memulihkan habitat alami bagi spesies rawa. Di sisi laut, bioplastik sagu membantu menekan kebocoran plastik petro kimia yang selama ini mencemari ekosistem pesisir. Dengan demikian, rantai nilai sagu–bioplastik tidak hanya menghubungkan petani dan industri, tetapi juga mengikat kepentingan lokal dan global dalam satu visi: ekonomi hijau berbasis restorasi ekosistem.

Melalui pendekatan ini, Indonesia menunjukkan bahwa solusi iklim dapat lahir dari akar budaya dan ekologi sendiri. Dari gambut yang dipulihkan hingga plastik yang digantikan, dari komunitas yang berdaya hingga pasar karbon yang kredibel dan semua terhubung dalam satu alur yang bersih dan berintegritas.

Sebagaimana ditulis oleh Johan Kieft, inisiatif ini bukan sekadar proyek lingkungan, melainkan model transformasi ekonomi yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama perubahan. Sagu menjadi simbol keseimbangan antara alam dan manusia, antara tradisi dan teknologi, antara ekonomi dan ekologi.

Penulis:
Johan Kieft
Regional technical specialist
UNEP

Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan dan opini penulis secara pribadi, serta tidak selalu mencerminkan pandangan, kebijakan, maupun posisi resmi GREEN for Riau beserta para mitra pelaksananya.